Announcement

Collapse
No announcement yet.

Menyontek, Bagai Jarum di Karburator

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Menyontek, Bagai Jarum di Karburator


    Pelajar mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK 30, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye/17)

    Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi para pelajar, menyontek bukanlah hal baru. Dari SD sampai kuliah, perilaku ini terjadi. Tak cuma di sekolah, sebetulnya perilaku menyontek terjadi di mana saja. Kalau sudah jadi kebiasaan, alangkah buruk dampaknya.

    “Dampaknya orang jadi lebih malas buat belajar, semuanya pengen serba instan, ketergantungan sama orang,” ujar Addina, Mahasiswi Psikologi Universitas Diponegoro, mengenai efek dari kebiasaan menyontek.

    Menurut Yesmil Anwar, dosen kriminologi Universitas Padjadjaran, menyontek diibaratkan seperti jarum kecil pada mesin karburator. Jika jarum itu didiamkan maka mesin karburator lama-kelamaan akan mati dengan sendirinya.

    Sebenarnya, masih banyak dampak yang akan dirasakan akibat dari kebiasan menyontek. Mulai dari dampak dengan skala kecil, hingga skala besar.

    Sebuah poling di harian Jawa Pos menunjukkan ada beberapa tipe penyontek. Respondennya adalah pelajar di beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya.

    Tipe penyontek itu adalah:
    1. penyontek langsung tanpa malu (89,6%)
    2. penyontek yang bertanya langsung pada teman (46,5%)
    3. penyontek yang menggunakan kode (20%), dan
    4. penyontek yang mengandalkan lirikan (14,9%).

    Budaya menyontek yang ada di kalangan generasi muda bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Mungkin saja akan muncul efek yang tidak hanya merusak diri mereka, tetapi juga merusak orang di sekitarnya.

    Regi Meliala, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, berpendapat bahwa menyontek bisa saja merugikan bangsa di masa depan. “Jadi nanti kalau dia (seorang penyontek) dikasih tanggung jawab lebih, dia bisa korupsi, bisa nyuri, bisa curang, bahkan bisa manipulasi data.”

    Padahal, menurut Regi, pelajar dan mahasiswa yang termasuk ke dalam generasi penerus bangsa alias calon pemimpin masa depan haruslah jujur dan memiliki prioritas sejak usianya masih belia. Bila dari kecil mereka sudah memiliki kebiasaan menyontek, efeknya pun akan dirasakan secara perlahan oleh Indonesia.

    Di balik itu semua, pasti ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan pelajar dan mahasiswa memilih untuk menyontek. Lalu, apa sebenarnya alasan di balik budaya yang kerap kali dilakukan oleh generasi muda tersebut?

    Tiara Audina, mahasiswa antropologi Universitas Indonesia, menyebutkan ada dua faktor utama yang menyebabkan seseorang memilih untuk menyontek. Pertama, faktor internal dan kedua, faktor eksternal.

    “Yang pertama, dia tidak pede (percaya diri) sama kemampuannya sendiri,” ujar Tiara. “Yang kedua, dan juga masih terkait dengan sebelumnya, yaitu dengan adanya budaya beberapa lembaga pendidikan formal yang menekankan pada pentingnya nilai yang tinggi.”

    Pendapat dari Tiara didukung oleh pernyataan Nugroho (2008), yang menyebutkan 3 penyebab munculnya tindakan menyontek dari dalam diri seseorang. Pertama, dari diri sendiri; kedua, dari guru/pengajar; dan ketiga, dari orangtua.

    Lantas, langkah apa yang harus dilakukan supaya budaya menyontek ini dapat dihilangkan –atau paling tidak dikurangi – dari kalangan pelajar dan mahasiswa? Mengingat dampaknya yang lebih menjurus ke arah negatif, elemen-elemen yang termasuk ke dalam faktor tersebut harus saling bekerja sama untuk memerangi kebiasaan menyontek.

    Pertama, tindakan menyontek tentunya tidak akan muncul jika ada rasa percaya diri di dalam diri seseorang. “Budayakan jujur, bangga sama hasil jerih payah sendiri, karena pada dasarnya nilai yang kita peroleh itu bisa jadi tolak ukur pencapaian kita,” tutur Addina.

    Lebih lanjut, orangtua pun perlu memberitahukan anak mereka sejak dini mengenai norma-norma yang berkaitan dengan kebiasaan itu, bukannya malah menekankan pada anak bahwa nilai yang dia peroleh haruslah bagus. Jika sudah ada doktrin seperti itu maka anak akan menghalalkan segala cara supaya bisa memperoleh nilai bagus, salah satunya dengan menyontek.

    “Terkait pentingnya peranan keluarga, teman, lingkungan, dan orang-orang terdekat lain, yakni dengan menanamkan nilai dan norma tertentu, seperti kejujuran, kepercayadirian, mungkin juga lainnya seperti nilai dan makna dari 'dosa', 'semua perbuatan itu diawasi Tuhan', dan nilai-nilai lain yang terkait dengan kepercayaan tertentu,” ujar Tiara.

    Tidak dapat dipungkiri, tingginya standardisasi nilai di sekolah dan kampus juga ikut menjadi penyebab munculnya tindakan menyontek ini. Oleh karena itu, instansi pendidikan pun perlu mengkaji ulang regulasi-regulasi yang menyebabkan kebanyakan pelajar dan mahasiswa menjadi penganut ‘hasil oriented’.

    Tenaga pengajar pun harus ikut andil dalam mengurangi kebiasaan buruk di tengah murid-murid mereka. Sebagai orangtua kedua murid, mereka dapat membimbing murid supaya menjadi seorang yang menghargai proses ketimbang hasil akhir.

    Memang, menghilangkan bahkan mengurangi kebiasaan itu sulit. Namun, bila hal-hal tersebut sudah ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, peluang untuk mengurangi budaya menyontek akan bertambah.

    Setidaknya, ada upaya yang telah kita lakukan untuk memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia para calon pemimpin kita di masa depan, yaitu pelajar dan mahasiswa. (ded/ded)

    (*)

    source: cnnindonesia.com
    ​​
    Buku Sekolah Digital atau BSD persembahan dari Mahoni.com untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Tersedia dalam 3 platform; ios, android dan windows dan dapat didownload secara GRATIS melalui Smartphone dan PC Anda. Tersedia +2000 buku SD, SMP, SMA/SMK untuk pelajar dan pengajar.
    Info lebih lanjut kunjungi : www.bsd.pendidikan.id
    Tlp : +6221-5494049
    E-mail : sales@mahoni.com
Working...
X