Announcement

Collapse
No announcement yet.

Guru Honorer MI di Majalengka Antar Jemput Murid Tanpa Imbalan Demi

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Guru Honorer MI di Majalengka Antar Jemput Murid Tanpa Imbalan Demi



    Sejumlah guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta Cilengkrang, Desa Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka tidak hanya bertugas mengajar bagi murid-murid di sekolah mereka, namun merekapun harus melakukan antar jemput muridnya ke rumah masing-masing dan sekolah.

    Hal itu dilakukan guru, agar murid bersedia belajar dan orang tuanya bersedia memasukan anaknya untuk sekolah di MI Cilengkrang. Makanya di sana pihak sekolah jangankan memungut biaya kepada orang tua murid, bersedia sekolahpun guru sudah bersyukur. Makanya setiap tahun pelajaran baru guru-guru berupaya membujuk anak agar bersedia sekolah.

    Menurut keterangan Kepala Sekolah MI Cilengkrang, Wawan Hermawan kini jumlah murid di sekolahnya mencapai 75 orang. Awal berdiri di Tahun 2008 jumlah murid sebanyak 15 orang di tahun kedua murid baru bertambah 14 orang yang kesemuanya berasal dari kampung Cilengkrang ditambah dari sebagian Blok Panggilingan tetangga kampung.

    Sekolah ini didirikan atas keprihatinan masyarakat Blok Cilengkrang yang anak-anaknya harus sekolah cukup jauh sekitar 2 km melintasi perkebunan, jika hujan jalanan licin karena saat itu belum beraspal. Selain itu masyarakat Cilengkrang menghendaki ada sekolah berbasis agama karena yang ada di Desa Lemahputih semuanya sekolah umum SD.

    Tahun 2008 kemudian didirikan MI digagas sejumlah tokoh masyarakat setempat diantaranya Amsor, Jaja, Enda,Ajud, Endun dan sejumlah warga lainnya. Semula jumlah murid hanya belasan orang karena jumlah masyarakat di sana juga terbatas. Jumlah gurupun awalnya terbatas hanya beberapa orang saja, namun semuanya sarjana karena memanfaatkan lulusan-lulusan S1 PAI. Sehingga kualitas anak didik bisa diuji dan dibandingkan dengan sekolah lain di perkotaan. Karena sekolah baru berdiri kegiatan belajar mengajarpun dilakukan di tempat darurat yang peting bisa melaksanakan KBM.

    “Bersyukur kini sekolah sudah hampir permanen yang dibangun secara swadaya, walaupun kini sudha mulai rapuh lagi, sebagian atapnya rusak, lantai juga lebrokannya sudah berlubang kembali tak heran saat kemarau berdebu,” ungkap Wawan. Sekolah pun tidak menganggarkan transportasi untuk guru honorer

    Guru yang kini jumlahnya sebanyak 7 orang bersama kepala sekolah ini tidak hanya berasal dari Desa Lemahputih namun sebagian berasal dari luar desa bahkan luar kecamatan. Wawan sendiri sebagai Kepala Sekolah berasal dari Desa Sukawangi, 2 orang guru lainnya berasal dari Desa Cigaleuh, serta dari Desa Wado Wetan, Kecamatan Bantarujeg. Guru-guru ini setiap hari pulang pergi ke sekolah sambil harus mengantar jemput sejumlah murid dengan sepeda motornya.

    “Untuk menarik murid dan orang tua agar bersedia menyekolahkan di MI Cilengkang, guru-guru berupaya mengantar jemput murid yang akan ke sekolah.” Kata Wawan

    Guru yang biasa melakukan antar jemput karena memiliki kendaraan diantaranya adalah Wawan, Asep Ramlan asal Blok Panggilingan, Desa Lemahputi serta Ahmad Mumu asal Bantarujeg.

    Ada sekitar 20 orang murid yang diantar jemput oleh gurunya, sekali menjemput bisa membawa 4 orang anak jika anaknya kecil dan tiga orang jika anaknya lebih besar.

    Asep Ramlan menyebutkan, setiap pagi pukul 07.00 WIB atau sekitar 06.30 WIB dirinya sudah mulai menjemput murid-muridnya untuk diangkut ke sekolah menggunakan sepeda motor karena sekolah mulai masuk pukul 07.30 WIB.

    Untuk mengangkut murid-murid tersebut, guru melakukannya secara sukarela tanpa mendapat imbalan dari orang tuanya atau siapapun, merekapun tidak mendapatkan imbalan khusus dana transportasi dari sekolah. Karena sekolah hanya mengandalkan Biaya Operasional Sekolah (BOS).

    “Boro-boro biaya transpot dari sekolah dana BOS juga terbatas hanya untuk operasional sekolah. Sebagian untuk honor guru, “ ungkapnya.

    Honorarium untuk 7 orang guru masing-masing mendapat Rp 200.000 per bulan. Karena semua guru di sekolah tersebut adalah guru honor, tidak ada guru negeri.

    Kasie Mapenda Kementrian Agama Kabupaten Majalengka Aef Saefuloh menjelaskan saat ini di kabupaten Majalengka ada 305 lembaga RA, 84 sekolah MI, MTs 83 dan MA 33, sebagian statusnya negeri namun lebih banyak yang swasta.

    “Kami sudah berusaha mendata dan mengajukan bantuan kepada pemerintah, hanya karena terbentur dengan undang undang tentang penyelenggaraan bantuan untuk sekolah swasta jadi terhambat, mudah mudahan tahun ini dewan segera mengesahkan refisi UU mengenai hal tersebut agar sekolah swasta bisa mendapatkan forsi yang sama dan penyelenggaraan pendidikan bisa berjalan baik,” tutur Aef.***

    source: Pikiran-rakyat

    //

    Media belajar KIPIN ATM sebagai digital library. Menyediakan ribuan buku sekolah digital untuk K1-K12, paket try out, video belajar dan komik literasi untuk anak sekolah hingga ke seluruh pelosok indonesia. Info lanjut di www. kipin.id || info@pendidikan.id || pendidikan.id
Working...
X