Announcement

Collapse
No announcement yet.

Kurikulum Pendidikan Demokrasi di Sekolah

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Kurikulum Pendidikan Demokrasi di Sekolah

    Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengatakan budaya demokrasi tidak bisa dibentuk dengan instan, melainkan harus ditanamkan sejak dini di bangku sekolah. Caranya dengan memasukkan kurikulum pendidikan demokrasi ke dalam mata pelajaran di sekolah.

    Selain itu menurutnya cara lainnya yaitu juga bisa dengan mengoptimalkan peran organisasi ekstra sekolah, sebagai wahana pendidikan penerapan budaya demokrasi substansial.

    "Sebut saja organisasi ekstra sekolah seperti GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia). Lewat GSNI segenap siswa digembleng untuk saling menghargai dan menghormati puspa ragam perbedaan, juga diajari untuk mendengar dan menghormati pendapat orang lain," kata Basarah dalam keterangan tertulis, Selasa (15/1/2019).
    Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi Sosialiasi 4 Pilar MPR RI bertajuk "Membangun Watak dan Karakter Kebangsaan Indonesia", bekerja sama dengan GNSI di Balai PMD,Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (14/1/2019).
    Menurutnya lewat organisasi ekstra sekolah siswa juga didorong mengedepankan musyawarah-mufakat dalam mengambil keputusan, dan menerapkan kultur demokrasi substantif dalam kehidupan sehari-hari.

    "Inilah yang disebut dengan demokrasi substansial yang diajarkan sejak dini," katanya.

    Basarah menjelaskan internalisasi budaya demokrasi substansial dalam diri remaja sifatnya mendesak. Setidaknya ada dua hal yang menjadi latar belakangnya.

    Pertama adalah dalam faktanya penerapan demokrasi di Indonesia selama ini baru sebatas demokrasi prosedural saja. Akibatnya, demokrasi hanya dipahami sebatas saat berlangsungnya kontestasi elektoral dalam memilih pemimpin saja.

    Sedangkan alasan kedua adalah soal karakteristik remaja. Menurut pakar psikologi/kejiwaan Elisabeth Hurlock dalam bukunya Development Psychology, salah satu ciri remaja yang paling menonjol adalah ketidakseimbangan emosial dan pencarian terhadap identitas diri.

    "Jadi remaja ini punya rasa penasaran yang tinggi. Kondisi semacam inilah yang cukup rawan. Jika tidak memiliki bekal ilmu dan agama yang kuat, bukan mustahil remaja akan jatuh atau terjerat dengan ideologi-ideologi asing yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia," katanya.

    Basarah melajutkan, tidak jarang dalam praktiknya penyebaran ideologi-ideologi transnasional tersebut pun menggunakan kecanggihan teknologi informasi.

    Ia pun menegaskan bahwa remaja dan pemuda merupakan aset penting bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat. Maka tidak mengherankan jika banyak tokoh-tokoh besar yang memberikan atensi besar kepada pemuda.

    Misalnya Ulama Mesir tersohor Syeikh Yusuf Al-Qardhawi yang menyebut "Jika ingin melihat suatu bangsa di masa depan, maka lihatlah pemudanya di hari ini". Bahkan Bung Karno pernah berpidato dengan nada yang sangat optimis tentang pemuda dengan menyebut "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".

    "Pemuda inilah yang menjadi ujung tombak sekaligus duta-duta yang aktif dalam mengampanyekan nilai-nilai toleransi, kerukunan sosial dan persaudaran sebagai karakter bangsa Indonesia. Perbedaan dalam demokrasi adalah sebuah keniscayaan," jelasnya.

    "Lawan berkompetisi adalah teman berdemokrasi dan lawan berdebat adalah temen berfikir. Ke depan harapan kita semua demokrasi substantif terus berkembang," pungkasnya.


    sumber: news.detik.com

  • #2
    Originally posted by ycevass View Post
    "Sebut saja organisasi ekstra sekolah seperti GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia). Lewat GSNI segenap siswa digembleng untuk saling menghargai dan menghormati puspa ragam perbedaan, juga diajari untuk mendengar dan menghormati pendapat orang lain," kata Basarah dalam keterangan tertulis, Selasa (15/1/2019).
    GSNI ini semacam OSIS kah?

    Comment

    Working...
    X