Announcement

Collapse
No announcement yet.

Pentingnya Meningkatkan Minat Baca di Antara Kita

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Pentingnya Meningkatkan Minat Baca di Antara Kita



    Minat baca seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap kebiasan membaca. Karena apabila seseorang membaca tanpa mempunyai kemauan membaca yang tinggi maka orang tersebut tidak akan membaca dengan serius dan sepenuh hati. Apabila seseorang membaca atas kemauan atau kehendaknya sendiri maka orang tersebut akan membaca dengan sepenuh hati.

    Apabila seseorang sudah terbiasa dengan membaca, kebiasaan tersebut akan dilakukan secara terus-menerus. Selain itu. kegemaran membaca memberikan dampak yang positif untuk orang tersebut. Karena minat baca yang sangat tinggi menjadikan minat belajarnya pun juga tinggi dan membuat orang tersebut memiliki wawasan yang luas.

    Seseorang yang senang membaca akan mempunyai pengetahuan yang luas dari buku yang dibacanya. Sangat disayangkan, apabila seseorang tidak suka membaca atau mempunyai minat membaca yang rendah karena pengetahuan orang tersebut akan sempit.

    Minat atau kemauan untuk membaca adalah sumber motivasi yang sangat penting dan kuat bagi seseorang untuk menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah dibacanya karena orang tersebut membaca sebuah buku memang karena ia ingin membaca buku tersebut dari hati, yang merupakan pengalaman belajar menggembirakan. Minat baca akan mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya kelak di masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah proses pengembangan diri yang memiliki peran besar dalam hidup seseorang, maka dari itu kemauan ini harus senantiasa diasah, dikembangkan, dan didalami sebab minat membaca tidak diperoleh dari lahir secara cuma-cuma.

    Membaca adalah berpikir. Berpikir merupakan suatu proses untuk mengenali, memahami, dan kemudian menginterpretasikan lambang-lambang yang bisa mempunyai arti. Di sini banyak terlibat unsur-unsur psikologis seperti kemampuan dan atau kapasitas kecerdasan, minat, bakat, sensasi, persepsi, motivasi, retensi, ingatan, dan lupa, bahkan ada lagi yaitu kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif yang akan membantu orang tersebut dalam memahami seberapa banyak pengetahuannya mengenai banyak hal, bagaimana ia memandang hidup yang ia jalani, ke mana arah yang sebenarnya ingin ia capai dan pastinya akan membuat seseorang menjadi haus pengetahuan karena ia sadar seberapa kecil pengetahuan yang baru ia gali

    Rendahnya minat baca sangat berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

    Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemauan dan kebiasaan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor dari luar diri seseorang atau faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga, tetangga maupun lingkungan sekolah. Ditambah lagi adanya kehadiran internet yang bersifat dua mata pedang, bisa memudahkan seseorang dalam membaca karena begitu luas dan lengkapnya internet atau sebaliknya, kehadiran internet yang memudahkan segala hal dan aksesnya yang mudah dan cepat malah menuntun seseorang semakin jauh dari dunia literatur. Faktor eksternal ini juga sangat berpengaruh besar terhadap diri siswa tersebut, yaitu mempengaruhi motivasi, kemauan dan kecenderungan dalam membaca.

    Rendahnya minat baca selain disebabkan oleh faktor di atas, juga disebabkan faktor lain, yaitu masih rendahnya kemahiran membaca seseorang, khususnya siswa yang masih bersekolah. Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas (2003) menyatakan bahwa “Kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan.”

    Minat Baca para siswa di Indonesia sangat rendah dilihat dari data. Muchlas (2000) menyatakan bahwa “Minat baca para siswa betul-betul jeblok yaitu siswa SD menduduki urutan ke 38 dan siswa SLTP urutan ke 34 dari 39 negara”.

    Rendahnya minat baca siswa disebabkan oleh banyaknya jenis hiburan, permainan (game), tayangan TV dan internet yang mengalihkan perhatian siswa dari buku. Dengan adanya hiburan, permainan dan tayangan TV menyebabkan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca habis digunakan untuk bermain, menonton TV dan berselancar di internet.

    Ramainya pengunjung di warnet sampai larut malam merupakan sebuah bukti berkurangnya minat membaca generasi muda di Indonesia, bahkan juga ada yang sampai menginap berhari-hari di warnet demi bermain game. Dapat dilihat, siswa tersebut tidak mencari bahan rujukan untuk menyelesaikan tugas dari sekolah tetapi sebagian besar hanya bermain-main dengan games-games yang membuat mereka asyik sampai lupa waktu.

    Kedua, banyaknya tempat hiburan yang menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, mall, supermarket, dan play station. Bahkan sebagaian besar waktu mereka habiskan untuk menonton sinetron yang content-nya kurang mendidik. Tidak heran jika semakin lama pengunjung perpustakaan akan semakin sedikit karena mereka lebih memilih untuk meluangkan waktu di mall ataupun menonton film daripada menggunakan waktu mereka untuk membaca.

    Padahal sebenarnya jauh lebih bermanfaat membaca daripada menghabiskan waktu untuk menonton, bermain games, membuka internet dan pergi ke mall.

    Ketiga, budaya membaca bukan budaya nenek moyang kita sehingga orang Indonesia khususnya generasi muda tidak menjadikan membaca buku sebagai sebuah hal yang penting, apalagi dijadikan kebiasaan. Dulu kita terbiasa mendengar dan belajar dari dongeng atau cerita yang diceritakan oleh orang tua kita.

    Keempat, sarana untuk memperoleh bacaan seperti perpustakaan atau taman bacaan masih dianggap sangat langka dan aneh.

    Kelima, harga buku yang masih sangat mahal tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Mahalnya harga buku menyebabkan buku tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Maka makin sedikit buku yang ada di perpustakaan sehingga pengunjung yang datang ke perpustakaan semakin berkurang. Duta Baca Nasional (2006) menyatakan bahwa “Masyarakat tidak bisa disalahkan karena rendahnya minat baca. Kondisi perpustakaan tidak mendukung dan jumlah koleksi buku juga terbatas”.

    Peran serta masyarakat dalam mengembangkan perpustakaan dan memberikan pemotongan pajak untuk buku pelajaran sehingga harga buku dapat dijangkau oleh masyarakat luas merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan minat baca siswa . Menumbuhkan minat baca para siswa memerlukan waktu yang lama karena membutuhkan proses membentuk minat baca seseorang dan mengubah paradigma masyarakat Indonesia untuk mulai menganggap bahwa membaca itu sangat penting.

    Dampak yang ditimbulkan akibat sangat rendahnya minat baca seseorang. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain Indonesia mempunyai minat baca yang rendah. Hamijaya (2008) menyatakan bahwa: “Fakta dan hasil penelitian menunjukkan rendahnya minat baca masyarakat kita merupakan dampak dari kebijakan nasional pembangunan politik pendidikan (budaya) yang tidak memberi ruang kreatif bahkan membelenggu berkembangnya minat baca masyarakat.”

    Penyebab lain rendahnya minat baca, yaitu kurang lengkapnya sarana pembelajaran dan budaya membaca. Untuk membaca buku saja siswa harus membeli buku karena kurang lengkapnya koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah-sekolah yang merupakan salah satu penyebab berkurangnya minat baca siswa.

    BPS (2008) menyatakan bahwa, “Fakta menunjukkan Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi mereka lebih memilih TV dan mendengarkan radio yang kenaikan hampir 211,1 persen.” BPS (2006) menyatakan bahwa “Masyarakat Indonesia yang memilih membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk, sedangkan yang memilih menonton TV untuk mendapatkan informasi sebanyak 85,9 % dan radio 40,3 %.”

    Dari data di atas, sangat disayangkan karena sedikitnya antusias masyarakat Indonesia untuk membaca dan lebih memilih dengan menggunakan media lain untuk mengetahui informasi. Hal tersebut menyebabkan dampak yang kurang baik bagi mutu pendidikan di Indonesia. Padahal membaca merupakan kunci seseorang untuk menuju kesuksesan di kemudian hari.

    source: CNN Indonesia

    //
    Media belajar SI KIPIN sebagai digital library. Menyediakan ribuan buku sekolah digital untuk K1-K12, paket try out, video belajar dan komik literasi untuk anak sekolah hingga ke seluruh pelosok indonesia.
    Info lanjut di www. kipin.id || info@pendidikan.id || pendidikan.id
Working...
X