Announcement

Collapse
No announcement yet.

Kemendikbud Pertimbangkan Tambah 15% Soal Berstandar Internasional pada UNBK 2019

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Kemendikbud Pertimbangkan Tambah 15% Soal Berstandar Internasional pada UNBK 2019



    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempertimbangan untuk menambah materi soal berstandar internasional hingga 15 persen pada pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ajaran 2019 mendatang, terutama pada mata pelajaran matematika. Materi soal yang membutuhkan jawaban dengan penalaran tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS) tersebut sebelumnya sudah diterapkan pada UN berbasis komputer (UNBK) 2018.

    Kendati demikian, Kemendikbud masih mengevaluasi hasil dari pemberlakukan soal jenis HOTS pada UNBK tahun ini. Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan, penyisipan materi soal berstandar internasional harus didukung oleh kesiapan guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, sarana prasarana dan metodologi pembelajaran yang relevan.

    “Materi soal HOTS akan diterapkan perlahan disesuaikan dengan tingkat kesiapan guru dan siswa. Kami juga melihat secara menyeluruh, termasuk jumlah pelajar yang sangat banyak, mencapai 28 juta orang. Sehingga tidak mungkin dilaksanakan secara serta merta," kata Muhadjir di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 2 Mei 2018.

    Muhadjir mengklaim, setiap tahunnya pemerintah terus berupaya memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan nasional. Di antaranya membuat sistem yang bertujuan untuk merangsang siswa berpikir kritis dan analitis. Menurut dia, meskipun sudah tidak dipakai sebagai alat penentu kelulusan, kualitas UNBK harus terus ditingkatkan. “Sekarang sedang dievaluasi di mana kelemahan yang membutuhkan penguatan,” ucapnya.

    Penerapan materi soal HOTS pada UNBK tahun ini mendapat banyak keluhan dan kritikan dari siswa SMK, SMA dan SMP. Peserja ujian menganggap materi soal terlalu sulit dan melenceng dari apa yang sudah dipelajari di sekolah. Muhadjir menyikapi serius keluhan dan kritikan tersebut. “Ini menjadi tanggung jawab saya, karena saya yang merestui soal HOTS mulai diterapkan tahun ini. Kritikan tersebut menjadi bahan evaluasi ke depannya,” ujarnya.

    Muhadjir menuturkan, jenis soal HOTS sesuai dengan standar yang diterapkan Program for International Student Assessment (PISA). Menurut dia, beberapa negara bahkan sudah menerapkan 25% materi soal HOTS dalam pelaksanaan ujiannya. “Kritik yang dilontarkan siswa-siswa, sebagai generasi milenial mengkritik dengan cara yang positif. Saya senang cara kritik mereka yang disampaikan secara jenaka tanpa umpatan,” katanya.

    Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia Heru Purnomo menilai, penerapan soal HOTS harus dibarengi dengan perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas guru dan sarana prasarana pendidikan yang menunjang. Menurut dia, jika ingin menerapkan ujian berstandar internasional, maka metode pembelajarannya pun harus berstandar internasional.

    ”Sekolah itu bukan hanya ujian. Bukan hanya evaluasi. Tetapi merupakan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kalau prosesnya masih standar nasional, pembelajarannya juga masih standar nasional, mengapa evaluasinya harus dipaksakan berstandar internasional?,” kata Heru.

    Heru menegaskan, evaluasi secara menyeluruh mutlak harus dilakukan. Bukan hanya terbatas pada evaluasi hasil ujian nasional. “FSGI meminta Mendikbud melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan UN. Baik secara personal, kelembagaan, teknologi sampai dengan konten yang diujikan. Agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi untuk tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.***

    source: Pikiran-Rakyat

    //

    KIPIN si Kios Pintar yang berisi buku sekolah digital untuk kelas 1-12. Tersedia juga video, tryout soal dan komik. Sebagai solusi pemerataan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia. Akses offline tidak perlu jaringan internet. Info lanjut di www.kipin.id || info@pendidikan.id || www.pendidikan.id
Working...
X