
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis oleh OECD memperlihatkan kondisi pendidikan Indonesia yang membutuhkan perhatian mendalam. Berdasarkan data dari 91 negara dan ekonomi peserta, Indonesia berada di peringkat ke-73 untuk bidang sains dengan skor 389, sedangkan skor kemampuan membaca berada di angka 365 dan matematika di angka 364. Capaian tersebut berada jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD. Di kawasan ASEAN, dari 8 negara yang berpartisipasi, Indonesia menempati posisi ke-6 untuk sains, ke-7 untuk membaca, dan posisi terendah (ke-8) untuk matematika.
Temuan yang sangat memprihatinkan terletak pada tingginya proporsi siswa yang belum menguasai kemampuan dasar. Sebanyak 60,9% siswa usia 15 tahun di Indonesia berada di bawah tingkat kompetensi dasar (Level 2) secara gabungan pada ketiga bidang literasi tersebut. Angka ini hampir tiga kali lipat dibanding rata-rata OECD sebesar 19,7%. Sementara itu, proporsi siswa berprestasi tinggi (Level 5 atau 6) di Indonesia hanya sebesar 0,1%. Ketimpangan ini mencerminkan tantangan ganda, yaitu perlunya penanganan serius terhadap pemerataan mutu pendidikan di tingkat dasar sekaligus pengembangan bakat talenta unggul.
Menanggapi capaian ini, Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyikapi hasil PISA 2025 sebagai pemicu dan bahan evaluasi kritis untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. Dalam arahannya, Kepala Negara menyoroti kompleksitas geografis Indonesia yang membawahi sekitar 388 ribu sekolah yang tersebar di wilayah pegunungan, pulau terluar, hingga kawasan 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Besarnya skala tantangan logistik ini membuat model digitalisasi pendidikan yang bergantung sepenuhnya pada jaringan internet stabil sulit diterapkan secara merata.

Ketimpangan akses infrastruktur tersebut tercermin nyata di berbagai daerah. Sebagai contoh, di SD Negeri 154/I Talang Aro (Jambi), para siswa dan guru terpaksa berjalan kaki mendaki bukit sejauh 5–6 km dari sekolah demi mendapatkan sinyal internet. Kasus lain terjadi di SD Naskat Rumaat (Maluku Tenggara), sebuah sekolah terpencil yang membutuhkan perjalanan kapal selama dua hari hanya untuk sampai ke ibu kota provinsi di Ambon. Realitas ini membuktikan bahwa pengadaan buku cetak konvensional sangat lambat dan mahal, sedangkan digitalisasi berbasis internet penuh berisiko memperlebar jurang pemisah bagi sekolah di daerah terpencil.
Guna memutus kendala struktural ini, diperlukan terobosan teknologi pendidikan yang mudah, murah, serta tidak bergantung pada ketersediaan koneksi internet. Salah satu solusi lokal yang relevan adalah Kipin, platform pendidikan digital berbasis teknologi hybrid karya anak bangsa. Melalui pendekatan “Download & Go”, konten pembelajaran cukup diunduh satu kali dan dapat diakses berulang kali secara offline. Kipin menyediakan opsi perangkat bertingkat seperti Kipin Classroom (untuk 20–30 pengguna per kelas) dan Kipin MAX (untuk hingga 1.000 pengguna per sekolah) yang dapat beroperasi sepenuhnya tanpa jaringan internet.
Dari sisi kelengkapan materi, ekosistem digital Kipin memuat lebih dari 5.000 buku kurikulum nasional, 2.000 video pembelajaran, 500 komik literasi, serta lebih dari 50.000 latihan soal interaktif untuk mengasah numerasi siswa. Selain itu, platform ini dilengkapi fasilitas software Kipin PTO (Paperless Test Online) untuk menyelenggarakan asesmen digital offline yang mendukung format Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) secara jujur dan efisien. Pengadaan teknologi ini juga dapat didanai secara legal melalui alokasi Dana BOS (komponen 9.2b dan 9.2d) untuk sekolah negeri serta Dana BKBA untuk lingkungan madrasah.

Keandalan pendekatan hybrid ini telah teruji dalam berbagai studi kasus lapangan di berbagai wilayah Indonesia. Di SMP Negeri 2 Serawai (Kalimantan Barat) dan SD Inpres 20 Nuni (Papua Barat), pelaksanaan ujian digital sukses digelar tanpa kendala meski di area minim sinyal. Demikian pula di MAN 2 Majalengka, sebanyak 1.000 siswa dapat mengikuti ujian offline secara serentak. Hasil-hasil di lapangan ini membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur internet bukan lagi penghalang utama bagi sekolah-sekolah di pelosok untuk mengakses sarana pembelajaran berkualitas.
Pemerataan akses pendidikan digital yang tepat sasaran menjadi fondasi krusial bagi Indonesia dalam mengejar target Indonesia Emas 2045. Namun demikian, adopsi teknologi bukanlah solusi tunggal yang berdiri sendiri. Keberhasilan dalam mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi siswa pada siklus PISA mendatang tetap memerlukan konsistensi implementasi, peningkatan kapasitas guru, keterlibatan orang tua, serta dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Sinergi antara teknologi tepat guna dan tata kelola pendidikan yang kuat akan menjadi kunci utama mencetak generasi masa depan yang berdaya saing global.
Mari dukung terwujudnya Indonesia Emas 2045, hubungi kami pada:
Web : kipin.id
Email : [email protected]
WA Chat : wa.me/6281233601047

