
JAKARTA – Selama dua dekade terakhir, skor Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan realita pahit bagi dunia pendidikan Indonesia: kualitas literasi dan numerasi siswa kita cenderung stagnan, tanpa kenaikan signifikan. Di tengah hiruk-pikuk klaim digitalisasi, muncul sebuah pertanyaan mendasar bagi para regulator dan pembuat kebijakan: Mengapa kemajuan itu tidak kunjung tiba?
Jawabannya mungkin terletak pada kekeliruan fundamental dalam strategi kita. Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, terus dipaksa mengandalkan konektivitas internet sebagai jalur tunggal transformasi pendidikan. Padahal, penyediaan infrastruktur internet ke seluruh pelosok bukan hanya sulit dan lambat, tetapi juga memakan biaya yang sangat mahal. Menggantungkan nasib pendidikan pada sinyal internet sama saja dengan mengganjal langkah kaki sendiri untuk berlari menuju Indonesia Emas 2045.
Menghidupkan Kembali Filosofi Bung Hatta
Wakil Presiden pertama kita, Mohammad Hatta, pernah memberikan wasiat visioner yang sangat relevan dengan kondisi ini:
“Indonesia tidak akan bersinar karena obor besar di Jakarta, tapi ribuan lilin di desa.”
Dalam konteks digitalisasi saat ini, “Obor Besar di Jakarta” adalah simbol dari ketergantungan kita pada server pusat yang hanya bisa diakses via internet. Sebaliknya, “Ribuan Lilin di Desa” adalah kemandirian infrastruktur di setiap sekolah. Kita tidak bisa menunggu 20 tahun lagi hingga seluruh gunung dan lembah terjamah fiber optik untuk sekadar memberikan akses buku berkualitas kepada siswa.
Kegagalan Paradigma “Internet-First”
Pemerintah dan regulator kerap terjebak dalam misi yang mustahil: mewajibkan internet untuk digitalisasi pendidikan dalam jangka pendek. Realitanya, pembangunan infrastruktur fisik jaringan adalah proyek dekade, bukan proyek dua tahun. Jika kita terus menunggu internet merata, kita secara sadar memilih jalan yang paling susah dan membiarkan satu generasi tertinggal lebih jauh.
Digitalisasi pendidikan tidak boleh mundur, namun metodenya harus dikoreksi. Mengapa harus menunggu internet jika teknologi digital sudah bisa berjalan secara offline hari ini?

Solusi Lokal untuk Masalah Nasional: Kisah Kipin
Jawaban atas kebuntuan ini telah dikembangkan sejak 2015 oleh dua putra bangsa yang memahami anatomi Indonesia lebih baik dari ahli asing manapun. Ginting Satyana, seorang arsitek perangkat lunak berpengalaman, bersama Santoso Suratso, BSc. MBA, veteran industri teknologi yang pernah memimpin distribusi produk global seperti Apple dan Kodak di Indonesia, mendirikan PT Mahoni Edukasi Digital.
Setelah sukses mendistribusikan lebih dari 100 juta buku digital melalui aplikasi BSE, mereka melahirkan Kipin. Visi mereka sangat tajam: “Indonesia tidak dapat mencapai kesetaraan pendidikan hanya dengan mengandalkan solusi yang bergantung pada internet.”
Melalui produk Kipin Max dan Kipin Classroom, mereka menciptakan infrastruktur pendidikan digital “Hybrid” atau Offline-First. Ini adalah “lilin-lilin sekolah” yang dimaksud—server lokal yang diletakkan di setiap sekolah, memungkinkan siswa mengakses ribuan video pembelajaran, buku digital, hingga sistem asesmen nasional (TKA) tanpa membutuhkan kuota internet sedikitpun.
Rekomendasi Kebijakan bagi Regulator
Untuk mencapai akselerasi nyata, kebijakan daerah dan peraturan pusat perlu bergeser dari sekadar “pemasangan internet” menjadi “pemberdayaan ekosistem digital mandiri”. Kipin hadir sebagai tulang punggung digital (digital backbone) yang siap pakai, mendukung mandat nasional untuk pemerataan akses tanpa harus menunggu menara BTS berdiri di setiap puncak bukit.
Hingga saat ini, lebih dari 3.500 sekolah di seluruh Indonesia telah membuktikan bahwa digitalisasi tidak harus mahal dan tidak harus tergantung sinyal. Melalui video di kanal Pendidikan Indonesia, terlihat bagaimana guru dan siswa tetap berdaya di tengah keterbatasan geografis.
Penutup: Membangun Melampaui Internet
“Kami mewujudkan pendidikan yang setara di Indonesia—bukan dengan menunggu internet, melainkan dengan membangun melampauinya.” Filosofi ala Steve Jobs ini harus diadopsi oleh para pengambil kebijakan.
Jika regulator berani mengubah arah kebijakan menuju sistem server lokal yang terdistribusi, maka cita-cita Bung Hatta akan terwujud. Pendidikan Indonesia tidak boleh tergantung pada satu server pusat di Jakarta. Ia harus menyala melalui ribuan server di sekolah-sekolah desa. Hanya dengan cara itulah, lilin-lilin kecil di pelosok negeri akan bersatu membentuk cahaya yang menerangi masa depan bangsa.
Untuk mempelajari solusi nyata yang telah diimplementasikan di ribuan sekolah, jangkau kami melalui:
Web: kipin.id
Email: [email protected]
WA Chat: wa.me/6281233601047

