Kumpulan Artikel Dan Berita Pendidikan Indonesia Berbasis Tehnologi Digital

Fenomena Pendidikan

Kesulitan Buku dan Internet, Kendala yang Tak Memadamkan Api Kepedulian Dedy untuk Pendidikan di Papua

Terpisah oleh bentangan samudera mungkin menjadi alasan terbesar, mengapa banyak daerah di luar Pulau Jawa masih timpang. Tidak hanya timpang dalam aspek ekonomi, sosial dan politik, tapi juga pendidikan. Padahal, pendidikan adalah aspek mendasar yang harus dikuasai agar dapat mengentaskan ketimpangan di aspek lainnya. Gedung bangunan yang masih sederhana, fasilitas yang tidak memadai, hingga kekurangan tenaga pengajar atau guru. Jaraknya yang jauh dari pusat keramaian dan titik modern, membuat hampir setiap orang enggan mengajar di daerah-daerah terpencil. Namun jika tak pernah ada kesadaran bagi setiap warga negara untuk membangkitkan pendidikan di luar Jawa, maka sampai kapan harus menunggu adanya pemerataan ekonomi?

Deddy Yuswanto bersama murid-muridnya dalam acara Pentas Seni Sekolah

Kondisi ini menggugah nurani Dedy Yuswanto, seorang lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). Ia merasa peduli, atas masih tertinggalnya pendidikan di tanah Papua. “Tak ada guru untuk Papua. Sampai kapan mereka harus tertinggal, jika tak ada yang mengajari untuk maju?,” lontar Dedy via telepon kepada pendidikan.id (Rabu, 19/07/2017). Kepedulian dan empati yang begitu besar terhadap siswa-siswi Papua, membuatnya bertekad keras untuk mengabdikan diri di sana. Ia ingin turut mengambil peran dalam pemecahan masalah pendidikan yang seolah tak kunjung usai ini. “Kalau bukan warga Indonesia yang mengerjakan ladangnya sendiri, lalu siapa?” imbuh pemuda asal Kota Sidoarjo ini.

Setelah sepuluh tahun Dedy mengajar Bahasa Inggris di SMP Hang Tuah Surabaya, tahun 2007 ia memulai perjalanan hidup yang baru di Papua. Ia menjadi guru Bahasa Inggris dan Komputer di SMKN Kainul, Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen. Memang berat jika harus meninggalkan teman dan sanak saudara di pulau seberang, namun panggilan jiwa jauh tak dapat dihindari. Bagaimanapun, Dedy sangat bersyukur masih dapat membawa serta istri dan anaknya ke kampung mereka yang baru, Kampung Kainui Distrik Angkaisera.

“Mengajar di Papua tidak mudah. Banyak kendala, mulai dari fasilitas hingga sarana-prasarana, yang membuat belajar-mengajar terhambat,” itulah kesan pertama yang dilontarkan Dedy. Menurutnya, kendala paling fatal yang dapat menghambat kegiatan belajar yaitu distribusi buku yang tidak lancar. Ia mengungkapkan, sekolah di Papua menggunakan buku-buku yang disupport dan dikirim oleh pemerintah. Namun sayangnya, pengiriman buku selalu terlambat, bahkan kadang juga tak pernah datang. Akibatnya, siswa seringkali tidak menggunakan buku paket sebagai pedoman belajar. Tidak hanya siswa, guru juga merasa kesulitan mengajar tanpa buku. “Dan jika jumlah buku terbatas, maka buku tak boleh dibawa pulang. Hanya boleh digunakan di sekolah, satu buku dibaca untuk beberapa anak,” ungkapnya.

Satu lagi kendala yang harus dihadapi Dedy dan teman-teman SMKN Kainul ialah koneksi internet. Arus data internet dapat dimanfaatkan untuk mencari bahan pelajaran, tugas hingga memperkaya diri dengan wawasan. Tapi di tengah gempuran dunia digital ini, Dedy justru tak bisa memperkenalkan lebih banyak soal digitalisasi kepada para siswa. “Koneksi internet di sini ada, tapi tak begitu baik seperti di kota besar. Sudah disediakan wifi oleh Menkominfo di sekolah, tapi muatannya hanya 2 megabyte per-hari,” papar Dedy, pria kelahiran Sidoarjo 35 tahun yang lalu ini. Harga kuota internet sendiri hanya mampu dijangkau oleh masyarakat-masayarakat yang telah bekerja, atau yang mampu secara finansial. “Sedangkan siswa-siswi generasi Z adalah yang justru paling membutuhkan koneksi internet. Agar mereka bisa banyak belajar,” imbuhnya.

Kurangnya tenaga pengajar selalu menjadi isu utama dunia pendidikan di luar Jawa. Persis seperti yang terjadi di SMKN Kainul, tempat Dedy mengajar. Banyak guru yang merangkap pelajaran lain, meski bukan bidangnya. Dedy sendiri mengajar Bahasa Inggris sekaligus Komputer, padaha ia hanya mengantongi ijazah Bahasa Inggris. Menurutnya hal ini justru akan merugikan siswa, karena guru tak dapat menguasai materi secara maksimal. “Mungkin benar guru akan mengambil materi rangkapan yang ia bisa atau mampu. Tapi tetap saja tidak maksimal, karena ia tak menguasai materi secara mendalam hingga akar-akarnya,” jelasnya.

Aplikasi Buku Sekolah Digital (BSD)

Pendidikan Indonesia butuh lebih banyak sosok yang peduli seperti Dedy. Tapi lebih dari sekedar manusia yang mau mengemban tugas, pendidikan Indonesia juga memerlukan solusi atas masalah buku dan internet. Misal, agar tak tertinggal terlalu jauh, maka penggunaan buku cetak seharusnya diganti menjadi Buku Sekolah Digital (BSD). Saat guru tidak ada, siswa juga bisa menggunakan Video Pendidikan Indonesia (VPI) sebagai penuntun belajar. Keduanya tidak membutuhkan koneksi internet yang besar dan berturut-turut. Cukup sekali saja diunduh, lalu disimpan untuk digunakan mendatang. Tidak perlu khawatir untuk mengunduh lagi, karna data yang sudah tersimpan bisa digandakan atau ditransfer dengan mudah ke gadget lain.

BSD dan VPI dapat menjadi solusi yang tepat, saat buku cetak tidak dapat diandalkan. Kondisi geografis memang menjadi faktor penghambat yang wajar terhadap proses distribusi buku cetak. Namun dengan BSD dan VPI, mampu meringankan beban pengabdi-pengabdi pendidikan sejati seperti Dedy. Kegiatan belajar-mengajar menjadi lancar, meski tidak ada buku ataupun koneksi internet yang besar. Untuk mendapatkan BSD pertama kali, dapat didownload melalui bsd.pendidikan.id atau via mobile application baik android, windows maupun iOS. Sedangkan untuk mendapatkan VPI, bisa didownload di video.pendidikan.id.

Bagaimanapun, semangat Dedy kiranya mampu menjadi inspirasi bagi jutaan penduduk Indonesia lainnya. Harapan Dedy selanjutnya yaitu ia ingin menyaksikan Papua menjadi kota yang maju, seperti kota-kota besar di Pulau Jawa. “Tidak ada lagi ketimpangan di antar-daerah. Harus berawal dari pendidikan, karena hanya pendidikan yang dapat merubah peradaban. Dan kalau bukan kita yang mulai peduli, lalu siapa lagi?” ucapnya sembari tersenyum. (wr/ed: Lia)

Most Popular

To Top