
Di SLB Negeri Handayani, Kabupaten Sukabumi, Kamis (24/9), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengajak siswa belajar mengenal rupiah menggunakan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap pemanfaatan digitalisasi pembelajaran, yang merupakan salah satu fokus Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah sendiri menargetkan digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada penyediaan perangkat, tetapi juga mendukung pembelajaran yang berkualitas dan merata.
Namun, di balik kehadiran layar interaktif di ruang kelas, muncul persoalan yang jauh lebih penting: apakah konten yang tampil di dalamnya benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap anak? Anak dengan autisme, tunagrahita, tunarungu, maupun kebutuhan khusus lainnya dapat memiliki karakteristik belajar yang berbeda, termasuk dalam memahami instruksi, memproses informasi, mengembangkan kemandirian, dan berinteraksi dengan media pembelajaran. Karena itu, materi yang dirancang untuk siswa pada umumnya belum tentu langsung sesuai ketika digunakan oleh siswa berkebutuhan khusus.
Fajar menegaskan pentingnya pengembangan dan pengayaan konten pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus mendorong Rumah Pendidikan yang lebih inklusif. Pesan ini menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan perangkat berteknologi tinggi; konten, metode, dan pengalaman belajar juga harus ikut disesuaikan agar teknologi benar-benar dapat digunakan oleh seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas.

Persoalannya, IFP pada dasarnya merupakan perangkat keras yang tetap membutuhkan konten dan sistem pembelajaran agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah melalui Program Digitalisasi Pembelajaran memang telah mendistribusikan PID/IFP dalam skala besar, tetapi keberadaan layar interaktif tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih efektif. Tanpa materi yang tepat, layar canggih tersebut berisiko hanya menjadi perangkat presentasi, sementara kebutuhan belajar anak yang sangat beragam belum sepenuhnya terakomodasi.
Di sinilah Kipin menawarkan pendekatan yang berbeda. Melalui KipinIFP, IFP dapat dilengkapi dengan ribuan konten pembelajaran yang beroperasi tanpa jaringan internet, sehingga IFP tidak hanya menjadi sekedar hardware “kosong” tanpa isi/konten pembelajaran, namun fasilitas mengajar yang siap digunakan. Koleksinya mencakup buku pembelajaran, video, komik literasi, serta berbagai konten anak; sejumlah materi juga dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang membutuhkan interaksi langsung dengan layar, seperti membaca, menulis, menggambar, mewarnai, dan aktivitas belajar lainnya. Jadi tidak hanya materi pelajaran sekolah, namun berbagai konten yang mengasah kemampuan motorik halus, dan pengetahuan umum bahkan pendidikan moral anak.
Untuk pembelajaran yang membutuhkan pendekatan lebih spesifik, keberagaman konten menjadi penting karena guru dapat memilih materi sesuai tujuan dan karakteristik peserta didik. Konten seperti buku berjenjang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran membaca secara bertahap, sementara buku mewarnai, aktivitas, dan fitur anotasi dapat dimanfaatkan dalam kegiatan yang melibatkan koordinasi tangan dan mata. Dengan model offline, guru juga tidak bergantung pada koneksi internet setiap kali ingin menampilkan materi di IFP.

Pengalaman pemanfaatan teknologi di sekolah inklusi juga menunjukkan bahwa media pembelajaran perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran, bukan sekadar perangkat tambahan. Penelitian tentang pengelolaan pendidikan inklusi di SD Inklusi Quantum Brain Makassar, misalnya, menunjukkan bahwa pembelajaran inklusif melibatkan asesmen, persiapan perangkat dan kurikulum, pemilihan model atau metode pembelajaran, serta penyiapan media pembelajaran yang sesuai.
Karena itu, tantangan digitalisasi pendidikan bagi ABK sesungguhnya bukan hanya “sudah punya IFP atau belum”, melainkan “apa yang dapat dilakukan dengan IFP tersebut”. Pemerintah telah menyediakan infrastruktur digital sebagai bagian dari agenda pemerataan pendidikan, sementara solusi seperti KipinIFP dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkaya perangkat tersebut dengan konten yang siap digunakan secara offline. Pada akhirnya, papan pintar baru benar-benar bermakna ketika teknologi, konten, dan cara mengajar bertemu dengan kebutuhan nyata setiap anak.
Mari dukung peningkatan pendidikan generasi muda Indonesia, Hubungi kami pada:
Web : kipin.id
Email : [email protected]
WA Chat : wa.me/6281233601047

