
Perubahan skala nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA, MA, SMK, dan sederajat dari 0–100 menjadi 200–800 menimbulkan pertanyaan di kalangan murid dan orang tua. Menurut Toni Toharudin, Kepala BSKAP Kemendikdasmen sekaligus Guru Besar Universitas Padjadjaran, pembaruan ini bertujuan menyelaraskan pelaporan hasil dengan metode pengukuran yang digunakan. Hasilnya diharapkan dapat membantu murid memahami capaian akademik, sekolah mengevaluasi pembelajaran, dan perguruan tinggi memperoleh informasi tambahan dalam proses seleksi.
Untuk memahami perubahan ini, mari melihat keterbatasan metode penilaian konvensional. Dalam tes yang terdiri atas 10 soal berbobot sama, murid yang menjawab 8 soal dengan benar akan memperoleh nilai 80. Perhitungan ini sederhana, tetapi belum tentu menghasilkan perbandingan yang adil jika dua murid mengerjakan paket soal dengan tingkat kesulitan berbeda. Karena itu, jumlah jawaban benar saja tidak selalu cukup untuk menggambarkan kemampuan akademik secara sebanding.
TKA menggunakan pendekatan Teori Respons Butir (Item Response Theory/IRT) model dua parameter. Metode ini memperhitungkan tingkat kesukaran dan daya pembeda setiap soal dalam memperkirakan kemampuan peserta berdasarkan pola jawabannya. Soal yang lebih sulit tidak otomatis memberikan bonus nilai; skor ditentukan melalui pengolahan pola respons dan karakteristik butir soal. Dengan pendekatan ini, jumlah jawaban benar yang sama dapat menghasilkan variasi skor yang berbeda. Sebagai ilustrasi, 8 jawaban benar dari 10 soal dapat menghasilkan hingga 45 variasi skor, bergantung pada pola jawaban dan karakteristik soalnya.
Penting untuk membedakan metode pengukuran dan skala pelaporan. IRT merupakan metode untuk memperkirakan kemampuan peserta, sedangkan rentang 200–800 merupakan skala untuk menyajikan hasil pengukuran tersebut. Rentang angka yang lebih luas tidak otomatis menjamin tes lebih akurat karena ketepatannya tetap bergantung pada kualitas soal dan pelaksanaan tes. Skala bernomor ratusan juga digunakan dalam tes lain, seperti UTBK-SNBT dan TOEFL. Namun, setiap tes memiliki sistem pengukuran tersendiri sehingga skor dari tes yang berbeda tidak dapat disamakan begitu saja.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat membaca skor TKA 200–800. Pertama, skor tersebut bukan persentase jawaban benar. Skor 600, misalnya, tidak berarti peserta menjawab benar 60% soal dan tidak dapat dikonversi ke skala 0–100 melalui perhitungan sederhana. Kedua, perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid otomatis meningkat. Ketiga, skor perlu dibaca bersama deskripsi capaian dan mempertimbangkan galat pengukuran (measurement error). Selisih skor yang kecil belum tentu menunjukkan perbedaan kemampuan yang berarti. Selain itu, penyetaraan (equating) digunakan untuk menjaga keterbandingan skor antar-paket soal dan, sesuai desain pengukuran, antarperiode tes.
Hasil TKA dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Guru dan sekolah dapat menggunakannya bersama hasil penilaian lainnya untuk merancang pendampingan belajar yang lebih tepat sasaran. Orang tua dapat menjadikannya bahan diskusi untuk memahami kebutuhan belajar anak. Sementara itu, perguruan tinggi dapat memanfaatkan hasil TKA sebagai informasi tambahan dalam seleksi jalur prestasi, sesuai ketentuan yang berlaku, tanpa mengabaikan nilai rapor maupun karakteristik program studi. Hasil asesmen juga berpotensi membantu kampus memetakan kebutuhan matrikulasi mahasiswa baru.
Pada akhirnya, keberhasilan penerapan skala baru ini bergantung pada keterbukaan informasi, kualitas soal, serta pelaksanaan tes yang aman dan akurat. Kolaborasi sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi diperlukan agar hasil asesmen benar-benar bermanfaat. Skor 200–800 bukan sekadar angka, melainkan informasi yang perlu ditafsirkan secara tepat untuk memahami capaian murid dan meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia.
Mari dukung peningkatan pendidikan generasi muda Indonesia, Hubungi kami pada:
Web : kipin.id
Email : [email protected]
WA Chat : wa.me/6281233601047

