HomePendidikan IndonesiaPISA 2025: Skor Naik Tipis, tapi Nalar Siswa Indonesia Masih Tertinggal

PISA 2025: Skor Naik Tipis, tapi Nalar Siswa Indonesia Masih Tertinggal

Infografis Analisa PISA 2025 Siswa Indonesia
Infografis Analisa PISA 2025 Siswa Indonesia

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali menjadi sorotan dunia pendidikan Indonesia. Secara nominal, skor membaca dan sains siswa Indonesia memang naik dibandingkan tahun 2022, namun kenaikan ini belum cukup untuk mengubah gambaran besar: mayoritas siswa Indonesia masih belum mencapai kemampuan dasar yang menjadi standar minimum PISA. Sementara itu, skor matematika justru mengalami penurunan, melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak beberapa siklus sebelumnya.

Jika ditelusuri dari data historis sejak tahun 2000 hingga 2025, maka terlihat pola yang cukup menarik. Skor sains, matematika, dan membaca Indonesia sempat mencapai puncaknya pada tahun 2015, dengan sains di angka 403, matematika 397, dan membaca 386. Namun setelah itu, ketiga skor tersebut cenderung menurun hingga titik terendah pada tahun 2022, sebelum akhirnya sedikit membaik pada 2025 dengan capaian sains 389, membaca 364, dan matematika 365. Artinya, performa pendidikan Indonesia dalam dua dekade terakhir cenderung fluktuatif dan belum menunjukkan tren perbaikan yang konsisten.

Di tingkat regional, posisi Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN peserta PISA lainnya. Dari delapan negara yang berpartisipasi, Indonesia berada di peringkat keenam untuk sains, ketujuh untuk membaca, dan terakhir untuk matematika. Indonesia hanya berhasil mengungguli Kamboja dan Filipina dalam sains, serta Kamboja saja dalam kemampuan membaca. Data ini menunjukkan bahwa meski akses pendidikan semakin luas, kualitas pembelajaran belum sepenuhnya mengikuti perluasan tersebut.

Persoalan yang lebih mendasar terlihat dari rendahnya kecakapan dasar siswa. Hanya sekitar 17 persen siswa Indonesia yang mampu mencapai level 2 atau lebih dalam matematika, 27 persen dalam membaca, dan 37 persen dalam sains. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang masing-masing berada di kisaran 65, 69, dan 74 persen. Dengan kata lain, sebagian besar siswa Indonesia belum memiliki kemampuan minimum untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata menggunakan pengetahuan membaca, matematika, dan sains yang mereka pelajari di sekolah.

Faktor digitalisasi turut menjadi perhatian dalam hasil PISA 2025. Gangguan akibat penggunaan gawai selama pembelajaran tercatat cukup tinggi, dan penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan oleh siswa untuk menyelesaikan tugas kini semakin umum. Kemudahan teknologi ini di satu sisi membuka akses informasi yang luas, tetapi di sisi lain berpotensi menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilatih melalui pendidikan, bukan sekadar dijawab secara instan oleh mesin.

Tren global juga menunjukkan gambaran yang tidak jauh berbeda. Rata-rata skor membaca negara-negara OECD tercatat mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir, begitu pula dengan matematika. Ini menegaskan bahwa tantangan literasi dan numerasi bukan hanya persoalan Indonesia semata, melainkan fenomena yang dihadapi banyak negara di tengah perubahan cara belajar generasi muda saat ini.

Solusi PISA 2025 Skor Naik Tipis, tapi Nalar Siswa Indonesia Masih Tertinggal
Solusi PISA 2025 Skor Naik Tipis, tapi Nalar Siswa Indonesia Masih Tertinggal

Hasil PISA 2025 ini sekali lagi menjadi pengingat bahwa penguatan literasi membaca dan numerasi siswa perlu menjadi prioritas bersama, bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga dukungan dari berbagai pihak termasuk platform pendidikan digital. Kipin School menyediakan ribuan literasi baca dan literasi numerasi untuk membantu meningkatkan literasi siswa secara nasional.

Upaya penguatan tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan bahan belajar yang tidak hanya membantu siswa menemukan jawaban, tetapi juga mendorong mereka membaca, memahami informasi, menghubungkan konsep, dan menggunakan pengetahuan dalam situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui Kipin School, siswa dapat mengakses koleksi buku literasi dan numerasi yang dirancang untuk berbagai jenjang pendidikan, sehingga kegiatan membaca dan belajar dapat dilakukan secara lebih beragam, baik di sekolah maupun di rumah.

Kehadiran sumber belajar digital juga perlu disertai pendekatan yang tepat agar teknologi tetap menjadi alat untuk memperkuat proses berpikir, bukan menggantikannya. Karena itu, pengembangan budaya literasi dan numerasi membutuhkan akses terhadap konten berkualitas sekaligus pendampingan guru dan orang tua. Dengan menyediakan bahan bacaan, cerita, komik literasi, hingga konten numerasi dan pendidikan umum lainnya yang dapat digunakan secara fleksibel, Kipin berupaya menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang mendukung penguatan kemampuan dasar siswa Indonesia.

Mari dukung peningkatan pendidikan generasi muda Indonesia, Hubungi kami pada:
Web : kipin.id
Email : [email protected]
WA Chat : wa.me/6281233601047

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments