Kumpulan Artikel Dan Berita Pendidikan Indonesia Berbasis Tehnologi Digital

Fenomena Pendidikan

Generasi Y Z Sebagai Ujung Tombak Perusahaan untuk Menghasilkan Karya Digital Bagi Sesama Generasi Y Z, Bahkan Generasi Selanjutnya

Istilah Generasi X, Y, Z semakin banyak terdengar seiring memasuki era digital. Sebenarnya apa dan siapa mereka? Banyak sumber telah membicarakan soal definisi generasi X, Y, Z, bahkan gaungnya juga sudah terdengar hingga ke masyarakat. Konsepnya, teori ini menjelaskan pembagian generasi dalam rentang umur tertentu berdasarkan ciri-ciri minat dan perilakunya. Tak ada patokan pasti mengenai tahun berapakah masing-masing generasi dilahirkan. Namun jika ditarik garis besarnya, maka Generasi X adalah generasi yang lahir antara 1965-1980, Generasi Y antara 1981 – 1994, dan Generasi Z antara 1995 – 2010.

Ilustrasi Generasi Y

Perbedaan perilaku yang dimiliki semuanya merujuk pada penggunaan media dan internet sebagai pemecah masalah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Generasi X paling familiar dengan media-media konvensional, seperti televisi, radio, CD dan lainnya. Internet di jaman ini sudah ada, namun masih menjadi barang asing karena belum canggih dan berkembang. Mulai dari Generasi Y, perkembangan internet dan smartphone semakin maju, serta digunakan di banyak aspek kehidupan. Memasuki generasi Z, internet atau dunia digital berkembang pesat dan mempengaruhi cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup. Media konvensional banyak ditinggalkan, dan tidak sedikit yang mulai ambruk.

Generasi Y dan Z mampu mengaplikasikan teknologi digital pada hampir semua kegiatannya dalam sehari penuh. Mulai dari berkomunikasi, bermain game, hingga bertransaksi. Anak-anak, remaja dan pemuda di jaman ini menghabiskan waktunya bukan dengan bertatap muka, membaca buku atau menonon TV, melainkan asyik bergelut dengan gadgetnya. Kebiasaan baru ini mendorong para pelaku bisnis untuk segera berinovasi, dan merekrut karyawan baru yang berasal dari Generasi Y Z. Ini yang menyebabkan pesatnya pertumbuhan budaya online dalam segala aspek.

Persis seperti uraian Rhenald Kasali dalam harian Jawa Pos (16/05/2017), generasi Y Z saat ini banyak dibidik oleh pasar dunia kerja. Penyebabnya, karena teknologi digital di masa depan dinilai akan mengambil alih perhatian masyarakat. Kedua generasi ini dianggap yang paling mampu menangani atau menciptakan beragam produk teknologi. Bahkan menurut Rhenald, generasi ini dapat melakukan disruption yang dampaknya cukup besar terhadap perubahan dunia bisnis. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa perusahaan seharusnya mampu menilai generasi Y Z sebagai aset dan penentu masa depan.

Logo PT. Mahoni Edukasi Digital (MED)

Pendidikan.id telah menyadari hal ini. Sebagai tim yang bergerak di bidang teknologi digital, maka suatu keharusan sekaligus keuntungan untuk merekrut pemuda-pemuda generasi akrab digital. Hingga saat ini, 70% tim kerja pendidikan.id lahir dalam rentang tahun 1981 – 1998. Sedangkan 30% sisanya adalah pemain-pemain lama yang telah menjadi senior, teladan sekaligus pembimbing para generasi baru.

Untuk menghasilkan karya-karya digital seperti yang dikerjakan oleh pendidikan.id, dibutuhkan para anak muda yang handal teknologi dengan segudang ide kreatif. Satu tim kecil dengan beribu talenta, ungkapan yang cocok menggambarkan suasana kerja dalam tim pendidikan.id. Meski kecil dalam jumlah dan rata-rata usia karyawan, namun hal itu justru menjadi kekuatan tim. “Perlu pemain ahli untuk membangun sebuah tembok di dunia digital, dan pemain yang paling ahli adalah generasi Y dan Z,” ungkap Ginting Satyana, Direktur tim pendidikan.id. Menurutnya, generasi-generasi terdahulu (generasi X) kini saatnya menjadi senior, pemimpin dan pembimbing para generasi Y Z.

Generasi Y dan Z yang turut merasakan manfaat pendidikan.id

Pemilihan generasi Y dan Z tidak hanya untuk menjadi tim pembangun, namun juga sasaran pengguna pendidikan.id. Karakteristik generasi muda yang cenderung menghabiskan waktu di depan layar gadget, mendorong lahirnya pendidikan.id. Berpegang pada fenomena jaman yang semakin mengarah pada digitalisasi, pendidikan.id seolah tampil menjadi jawaban kerisauan sebagian masyarakat tentang mundurnya pendidikan. “Fakta bahwa pelajar kini cenderung menyelesaikan semua dengan teknologi digital tak terelakkan. Mereka lebih suka bermain game, membuat catatan di gadget atau memfoto materinya, bermain media sosial, bertransaksi via online, dsb. Ini membuat mereka malas belajar secara konvensional, lebih suka yang instan” jelas Ginting.

Menurutnya, dengan adanya buku digital yang dapat dicorat-coret layaknya buku, serta penjelasan materi yang lebih atraktif melalui video dapat menambah semangat belajar anak-anak. Ditambahkan, tryout online yang berisi latihan-latihan soal, baik untuk ulangan harian, ujian semester ataupun ujian nasional. Ginting berharap, dengan tim generasi Y Z yang menjadi ujung tombak pendidikan.id ini, dapat semakin menghasilkan karya-karya digital di bidang pendidikan. Nantinya, yang menarik dan berguna bagi sesama generasi Y Z, atau bahkan generasi selanjutnya. (wr/ed: Lia)

 

 

article’s source: Jawa Pos cetak edisi Selasa, 16 Mei 2017 hal. 1

Most Popular

To Top