Kumpulan Artikel Dan Berita Pendidikan Indonesia Berbasis Tehnologi Digital

Tokoh

Budi Santoso: Mengajar dengan Passion, Berkarya untuk Siswa (Part I)

mgmp biologi jatim

Berawal dari hobi belajar dan mengajar, Budi Santoso mulai masuk ke dunia guru sejak tahun 1993. Kala itu, Budi masih meniti pendidikan tinggi sarjana di IKIP Surabaya Jurusan Biologi. Ia menjalani kuliah sambil mengajar di lembaga pendidikan (lembaga bimbel resmi, red), sekaligus memberi bimbel gratis untuk anak-anak kurang mampu di sekitarnya pada waktu luang. Pendapatan yang didapatkan memang tidak seberapa nilainya, namun rasa puas dan bangga karena telah berhasil mengantongi pengalaman serta melayani sesamalah yang membuat Budi semangat mengatur waktunya antara kuliah dan mengajar.

Empat tahun masa kuliah berlalu, Budi lulus pada tahun 1997 dengan menyandang gelar Sarjana Pendidikan Biologi. Ia langsung mengawali karirnya sebagai guru Biologi di SMA Sasana Bhakti Surabaya. Pada tahun yang sama pula ia bergabung dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi. Budi menjadi anggota yang cukup aktif dalam organisasi MGMP Biologi, namun tetap tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai guru. Bahkan, ia berhasil membuktikan dirinya merupakan guru yang berkualitas melalui kompetisi guru kreatif “Citi Success Fund” tingkat Nasional pada tahun 2003. Penelitiannya yang berjudul “Menjembatani Perbedaan SARA Antara Etnis Jawa dan Tionghoa” sukses meraih juara pertama, dan juara dua di kategori aktivitasnya yang diberi judul “Pentas Barongsai.”

Passion menulis dan mengajarnya semakin bertambah. Budi memutuskan untuk mengajar di dua sekolah mulai tahun 2002, yakni SMA Sasana Bhakti dan SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Setelah berhasil meneliti tim barongsai sebagai wadah kerukunan Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa, ia kembali melakukan penelitian yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan baru di dunia pendidikan. Penelitian produk jamur dan wiraswasta sabu (sari bumi), keduanya turut diikutsertakan dalam kompetisi “Citi Success Fund” tahun 2004. Keduanya pun berhasil terpilih menjadi juara dalam 1 kompetisi, penelitian produk jamur mewakili SMA Sasana Bhakti sedangkan wiraswasta sabu mewakili SMA Petra 3 Surabaya.

Panggilan hidup menjadi pegawai negeri sipil tak dapat terelakkan. Mulai tahun 2010, Budi mengajar di SMAN 21 Surabaya — hingga kini. Karena ingin mencetak siswa-siswi dengan kualitas pendidikan terbaik, maka Budi meninggalkan sekolah lainnya dan fokus mengajar di SMAN 21. Namun ia pun tak berhenti berkreasi meningkatkan kualitas diri. Budi kembali melakukan penelitian untuk diajukan pada kompetisi “Citi Success Fund” di tahun yang sama dengan awal perjalanannya di SMAN 21 Surabaya. Penelitian itu diberinya judul “Tempe Ajaib,” mengulas tentang penemuan cara membuat tempe dalam waktu singkat yaitu hanya 3,5 jam. Jumlah waktu pembuatan yang 10 kali lebih cepat dari biasanya ini dilakukan dengan mengubah dua variabel, yakni variabel temperatur dan ragi.

-Bersambung –

Most Popular

To Top